Mereka Yang Meninggalkan Kebiasaan Nenek Moyangnya

Hari ini tanggal 5 Oktober 2018 bertepatan dengan diperingatinya HUT TNI ke-73 oleh Bangsa Indonesia, namun dalam hal ini saya tidak sedang bercerita mengenai sejarah panjang nan gagah perkasa tentang prajurit pahlawan bangsa, akan tetapi saya bermaksud menceritakan tentang suatu peristiwa kecil yang terjadi di sebuah desa kecil yang penduduknya tidak lebih 35 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 150 jiwa yaitu Desa Parupuk, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah. Sebuah peristiwa yang mungkin bagi sebagian orang biasa-biasa saja, namun bagi saya yang juga merupakan warga asli salah satu desa di wilayah kecamatan yang sama dengan Desa Parupuk, peristiwa yang terjadi hari itu saya menganggapnya merupakan sebuah langkah kecil yang dapat mempengaruhi bagi desa-desa tetangga disekitar Desa Parupuk.

Peristiwa tersebut dimana warga Desa Parupuk berdasarkan hasil rapat kampung yang sebelumnya telah dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 29 September 2018, bahwa warga Desa Parupuk bersepakat bersama-sama akan melakukan kegiatan pembongkaran jamban-jamban terapung atau ‘jamban helicopter’ yang berada di sepanjang pinggir Sungai Katingan di wilayah Desa Parupuk. Pembongkaran jamban ini merupakan pelaksanaan terhadap ‘komitmen’ yang tercantum didalam ‘klausul’ kontrak kerjasama antara warga Desa Parupuk dalam hal ini diwakili oleh Pemerintahan Desa Parupuk dengan PT.Rimba Makmur Utama (RMU) sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Restorasi Ekosistem Hutan dan Rawa Gambut DAS Katingan dan DAS Mentaya.

Desa Parupuk sendiri merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Kamipang, yang lokasi pemukiman warganya memanjang dipinggir Sungai Katingan. Sedangkan keberadaan jamban terapung sampai saat ini sudah menjadi pemandangan khas pemukiman warga desa-desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Katingan. Jamban terapung dibuat dari kayu papan berukuran 1,5 x 2 meter yang biasanya didirikan di atas rakit kayu berfungsi sebagai toilet atau tempat warga untuk buang hajat. Dari cerita warga bahwa keberadaan jamban terapung di Desa Parupuk di sepanjang Sungai Katingan sudah ada sejak berdirinya kampung Parupuk sekitar tahun 1902, sehingga bangunan jamban-jamban yang masih ada sampai sekarang merupakan bangunan ‘turun temurun’ telah melewati beberapa dekade mulai jaman pra kemerdekaan, orde lama, orde baru dan reformasi.

Kondisi bangunan jamban terapung Desa Parupuk di pinggir Sungai Katingan. Saat ini bangunan jamban sudah banyak dibongkar oleh warga yang mulai beralih mempergunakan WC darat.

Pagi itu, sudah sejak dari jam 8 pagi, sekitar 10 orang warga laki-laki dipimpin oleh ketua BPD Parupuk, bapak Bilma’ruf dan Hansip Desa Parupuk, bapak Supriadi bersama-sama warga lainnya seperti Julianoor, Duye, Auriansyah, sudah berkumpul di depan rumah kepala Desa Parupuk bapak M.Kadir. Mereka sudah siap untuk bergotong-royong membongkar bangunan jamban-jamban terapung tersebut. Tidak mudah dan tidak cukup singkat juga bagi warga Desa Parupuk sampai pada akhirnya mereka bersepakat untuk membongkar jamban-jamban milik mereka yang dibangun di sepanjang Sungai Katingan. Kades Parupuk menceritakan bahwa sebelumnya sekitar tahun 2007 di Desa Parupuk melalui program ADD sudah dicoba melakukan program pembangunan wc darat disetiap rumah warga dengan tujuan agar warga dalam melakukan aktifitas MCK tidak memakai jamban di pinggir Sungai Katingan. Akan tetapi saat itu program yang dilaksanakan hasilnya belum ‘optimal’ untuk dapat mengajak warga desa beralih menggunakan wc darat. Saat itu jamban-jamban tetap berdiri bahkan sebagian kondisi bangunan jambannya banyak kayu yang lapuk, bolong-bolong papannya dan ‘ringkih’ seperti mau rubuh ketika ada orang mempergunakannya.

Menurut pak kades bahwa yang menjadi hambatan untuk mengajak warganya untuk mempergunakan wc darat, salah satu alasannya adalah pola kebiasaan warga sudah mengakar kuat yang selalu mempergunakan jamban atau melakukan aktifitas MCK langsung di pinggir Sungai Katingan. Selain itu, ketika dahulu program pembangunan wc darat dilaksanakan kualitas bangunan wc yang dibuat kurang baik, “wc saat itu dibuat menggunakan kayu kurang bagus sehingga cepat lapuk, konstruksi bangunannya tidak sesuai standar makanya banyak wc yang mampet, yang akhirnya saat ini tidak tidak bisa difungsikan”, terang pak kades Parupuk kepada saya.

Petugas dari dinas kesehatan sudah mencoba memberikan penyuluhan tentang dampak buruk jamban sungai dan mengajak warga desa untuk beralih ke gaya hidup yang lebih sehat dan lebih baik, namun belum juga mampu menjadikan warga di Desa Parupuk untuk beralih mempergunakan wc darat. Sementara dari pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Katingan sudah juga sering memberikan himbauan, memasang spanduk bertema gerakan hidup sehat dengan ajakan untuk tidak mempergunakan jamban yang kotorannya langsung dibuang ke Sungai Katingan. Pada tahun 2017 Program Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS) pun digaungkan melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Katingan. Dengan program GERMAS pihak pemerintah daerah Kabupaten Katingan telah melakukan himbauan kepada warga desa yang berada di wilayah Kabupaten Katingan bahwa suatu saat keberadaan jamban disekitar Sungai Katingan akan dilakukan pembongkaran ‘paksa’ oleh aparat pemerintah. (Instruksi Bupati Katingan, Nomor 1 Tahun 2017 tentang Eliminasi Jamban Sungai)

Pelaksanaan program GERMAS di Desa Parupuk saat itu menurut hemat saya hasilnya masih kurang optimal, karena program GERMAS di Desa Parupuk pelaksanaan kegiatannya berupa Kampanye Kesehatan saja, dengan melakukan kegiatan himbauan dan penyuluhan tanpa dibarengi pendanaan yang cukup dan proses pendampingan supervisi program yang berkelanjutan. Warga di Desa Parupuk memberikan penilaian serupa, mereka mengatakan bahwa yang dilakukan oleh pihak pemerintah daerah hanya sebatas himbauan saja tidak disertai dengan solusi dalam bentuk materi atau benda nyata. Pihak pemerintah daerah lebih mengharapkan warga segera sadar dan langsung beralih dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru.

Sebenarnya warga Desa Parupuk bukannya tidak menyadari dan tidak ingin untuk membangun wc darat, akan tetapi untuk membangun wc darat memerlukan biaya yang lumayan besar sehingga menjadi kendala utama bagi mereka saat itu, “Jangankan untuk membeli closet, pipa dan semen, untuk membeli beras saja masih sering kesulitan”, begitu alasan beberapa warga yang disampaikan kepada saya, “apalagi saat ini kegiatan usaha perikanan seringkali hasilnya tidak memuaskan”, ujarnya mereka pula menambahkan.

Aktifitas warga Desa Parupuk yang menggunakan Sungai Katingan untuk kegiatan mandi, mencuci pakaian dan buang hajat di jamban yang kotorannya langsung dibuat ke sungai

Pemerintahan Desa Parupuk yang dipimpin oleh bapak M.Kadir mencoba mencari “jalan” untuk dapat melaksanakan himbauan dari pemerintah daerah untuk mulai secara bertahap melakukan pembongkaran beberapa bangunan jamban di wilayahnya yang didirikan warga dipinggiran Sungai Katingan. Secara kebetulan, mengingat di wilayah Desa Parupuk ada beberapa perusahaan konsesi dan juga ada beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat, maka Kepala Desa Parupuk melakukan ‘inisiatif’ untuk membuat sebuah proposal usulan yang isinya meminta kepada parapihak guna mendukung pelaksanaan Program Sanitasi di Desa Parupuk. Proposal program Desa Parupuk proses penyusunannya dilakukan melalui musyawarah warga yang hasilnya disepakati bahwa proposal program nantinya akan ditujukan untuk meminta dukungan ke beberapa pihak antara lain Dinas kesehatan Kabupaten Katingan, PT.Arjuna Utama Sawit (AUS), PT.Rimba Makmur Utama (RMU), dan Lembaga WWF (World Wildlife Fund for Nature) Indonesia.

Dari para pihak yang dituju, diperoleh tanggapan yang berbeda-beda, dari Dinas Kesehatan sangat mendukung namun tidak ada pendanaan. PT.AUS hanya bisa memberikan kontribusi sebesar Rp 1.500.000,-, dan dari pihak WWF Indonesia tidak ada pendanaan. Hingga dari pihak PT. RMU yang kemudian memberikan feedback berupa suatu usulan untuk melakukan sebelumnya kegiatan kajian awal dengan melakukan diskusi pemetaan sebaran wc darat dan penyusunan kembali proposal dengan didampingi oleh Yayasan Puter Indonesia. Hingga kemudian disepakati oleh PT.RMU dan Pemdes Parupuk untuk dilaksanakannya Program WATSAN (Water and Sanitasion) di Desa Parupuk, dengan mekanisme sharing pendanaan yaitu dari PT.RMU sebesar Rp 57.635.000,- sedangkan swadaya Desa Parupuk senilai Rp 92.364.000,- dengan Yayasan Puter Indonesia sebagai pendamping kegiatan. Menariknya mulai di tahun 2017 di Desa Parupuk sarana infrastruktur pendukung bagi warga desa mulai dibangun antara lain: penyediaan sarana air bersih berupa sumur bor dengan tower induk yang dilengkapi dengan tandon- tandon penampung yang tersebar di 9 titik untuk mendistribusikan air ke setiap rumah warga; dan penyediaan sumber listrik bagi warga yang dikelola oleh pemerintah desa berupa pembangunan instalasi listrik tenaga diesel, sehingga secara ada ‘kewajaran’ jika pada saat itu masyarakat di Desa Parupuk akan lebih mudah untuk memanfaatkan wc darat nantinya.

Bersama perwakilan warga Desa Parupuk melakukan penyusunan proposal, pembuatan desain gambar wc serta kebutuhan anggaran biayanya.

Kesepakatan Kerjasama pelaksanaan Program WATSAN di Desa Parupuk pada akhirnya disepakati warga Desa Parupuk dan PT.Rimba Makmur Utama (RMU) yang termuat dalam Surat Kesepakatan Kerjasama yang ditandatangani oleh Pemerintahan Desa Parupuk dan PT.Rimba Makmur Utama. Selanjutnya, sejak bulan Agustus tahun 2017 dimulai pelaksanaan kegiatan untuk Program WATSAN di Desa Parupuk dengan proses pendampingan program difasilitasi oleh Yayasan Puter Indonesia, termasuk saya sendiri adalah salah satu tenaga pendamping (Community Organizer) dari Yayasan Puter Indonesia untuk pelaksanaan program WATSAN di Desa Parupuk.

Melakukan pengecekan ketinggian air ketika saat musim banjir masuk sampai wilayah pemukiman rumah warga Desa Parupuk

Bagi saya bukanlah sebuah perjuangan jika tanpa tantangan dan kendala, pada tahun 2017 yaitu mulai bulan Agustus sampai awal bulan Oktober terjadi banjir besar berulang kali melanda hampir sebagian desa-desa di sepanjang Sungai Katingan dengan ketinggian muka air mencapai 60-70 cm di atas permukaan tanah yang tentunya menjadi sebuah hambatan untuk proses pembangunan wc darat saat itu, dimana sangat tidak mungkin untuk menggali safety tank di atas genangan air, dan kegiatan yang mustahil untuk membuat pondasi dalam kondisi air banjir. Namun keadaan ini tidak menyurutkan langkah strategi bagi saya untuk tetap bisa menjalankan program WATSAN di Desa Parupuk. Sebagai ‘opsi’ lapangan saat itu yang saya lakukan adalah mencoba mengajak warga selama musim banjir kegiatan akan lebih memprioritaskan pembuatan batako. Proses kegiatan pembuatan batako ini dikerjakan secara gotong royong bukan membeli. Proses pembuatan batako ini bagi warga di Desa Parupuk masih merupakan hal baru dikarenakan rata-rata bangunan rumah bagi orang Dayak di pedesaan lebih banyak menggunakan material kayu papan.

Setelah kondisi air banjir mulai surut sekitar bulan Oktober dan setelah kami anggap kondisi tanah sudah sedikit kering maka dimulailah kegiatan pembuatan pondasi dengan menggunakan besi dan cor-coran beton. Pembuatan safety tank terpenuhi meskipun jika dihitung dari durasi kontrak kerjasama yang hanya 3 bulan yaitu Agustus s/d Oktober 2017 memang telah terjadi keterlambatan. Tetapi karena ini adalah dunia pemberdayaan masyarakat bukan dunia proyek maka keterlambatan yang terjadi masih bisa dimaklumi oleh warga Desa Parupuk sendiri dan juga PT.RMU. Factor alam (force major) yaitu terjadi banjir yang menjadi hambatan utama selama proses dilapangan, selain menghadapi keadaan kurangnya tenaga kerja dari warga merupakan sebuah dinamika yang berpengaruh tidak tepatnya pekerjaan sesuai jadwal rencana.

Kegiatan pembuatan batako warga Desa Parupuk saat itu mulai dilakukan ketika musim banjir terjadi di desa

Akan tetapi yang menjadi tantangan bagi saya saat itu adalah bagaimana mencari tenaga kerja dari warga dengan mekanisme yang dijalankan tidak adanya alokasi biaya untuk upah bagi pekerja/tukang. Untuk biaya upah pekerja tidak ‘diuangkan’ namun lebih diharapkan menjadi sisi swadaya dari warga Desa Parupuk sendiri. Tentunya warga sendiri saat itu tidak bisa sepenuh waktu untuk bertukang mengerjakan bangunan wc yang jumlahnya cukup banyak yaitu 25 buah untuk rumah dan 4 buah untuk umum sehingga totalnya 29 buah, dikarenakan mereka juga perlu untuk tetap memasang jaring dan pancing serta lokahnya untuk menangkap ikan sebagai sumber penghasilan sehari-hari bagi keluarga mereka dirumah. Demikian kira-kira kondisi dan situasi seperti diatas yang menjadi tantangan bagi saya sebagai seorang pendamping warga Desa Parupuk selama pelaksanaan program WATSAN. Hingga pada akhirnya setelah memakan waktu kurang lebih setahun sejak penandatanganan kesepakatan kerjasama, jamban ‘helicopter’ itu dieliminasi dari Sungai Katingan khususnya yang ada di wilayah Desa Parupuk.

Pengerjaan pembuatan pondasi wc darat di Desa Parupuk dilakukan oleh warga desa sendiri secara swadaya

Ada hal menarik yang saya patut berikan acungkan jempol yaitu adanya beberapa orang warga sebelum tanggal 5 Oktober sesuai kesepakaatan dalam rapat kampung, dimana mereka telah terlebih dahulu dengan suka rela membongkar jambannya. Terdapat cerita menarik yang terjadi pada proses pembongkaran jamban saat itu. Ada seorang nenek tidak perlu saya sebutkan namanya yang menolak membongkar jambannya. Padahal kakek (suaminya) sudah bersiap turun ke ‘lanting’ membawa linggis, hansip desa hanya bisa terdiam, beberapa orang staff UPTD Kesehatan (Puskesmas) Kecamatan Kamipang yang sengaja datang dari Desa Baun Bango untuk menyaksikan hari bersejarah itu pun tidak bisa berbuat apa-apa. Nenek tersebut bersungut-sungut bahkan diikuti sumpah serapahnya bersikeras tidak mau membongkar jambannya, “..saya tidak mau kalau tidak ada ganti rugi..” begitu ujarnya yang sempat saya dengar di antara kata-kata yang diucapkan si nenek. Seorang warga nyeletuk “ … kan sudah dibangunkan wc darat lebih bagus dan permanen..”. Akan tetapi si nenek malah masuk ke dalam jamban dan mengunci pintu dari dalam. Akhirnya tim yang akan melakukan pembongkaran sepakat, untuk jamban tersebut ditunda pembongkarannya sampai situasi kondusif, mungkin kepala desa perlu berbicara lagi secara kekeluargaan dan memberikan pengertian dan pendekatan kepada si nenek. Jujur, memang ada sedikit kekhawatiran yang saya rasakan ketika si nenek lama tidak keluar dari wc, sampai kira-kira setengah jam. Terlintas dipikiran saya saat itu, jangan-jangan penyakit hipertensi si nenek kumat di dalam. Sementara saat itu si kakek masih menunggu di luar. Mungkin karena sudah hilang kesabaran, maka si kakek kemudian menggedor pintu keras-keras dengan dibarengi mengoncang-goncang jamban tersebut. Mungkin karena takut jambannya roboh, akhirnya si nenek pun keluar dan tanpa membuang waktu si kakek langsung membongkar dinding jamban tersebut sendirian tanpa minta dibantu warga dan hansip yang saat ini masih ada rasa takut kena marah si nenek kembali nantinya. Terlihat lucu dan menjadi hiburan tersendiri bagi saya saat itu ketika sedangn mendampingi warga Desa Parupuk bergotong royong membongkar jamban. Tetapi begitulah potret, sebuah proses serta cerita realita dalam pelaksanaan program pembangunan di tingkat desa. Bahwa pro dan kontra akan selalu ada, bahkan di tingkat paling bawah (desa) pun terjadi, tetapi bukan berarti menjadi halangan untuk melakukan perubahan yang lebih baik kedepan.

Upaya warga Desa Parupuk bergotong royong dalam melakukan pembongkaran bangunan jamban terapung yang berdiri di sepanjang Sungai Katingan

Mengakhiri tulisan ini, saya berharap semoga apa yang telah dilakukan bersama oleh para pihak baik segenap warga dan pemerintahan Desa Parupuk, Instansi dan Dinas Kesehatan serta dukungan dari pihak perusahaan PT.Rimba Makmur Utama (RMU), program WATSAN tetap bisa berjalan dengan baik, warga Desa Parupuk sendiri berkomitmen untuk tidak lagi memanfaatkan Sungai Katingan sebagai sarana MCK sampai seterusnya ke depan. Pemerintah Daerah Kabupaten Katingan juga turut mendukung apa yang telah dilakukan oleh warga Desa Parupuk, “bahwa mereka telah meninggalkan kebiasaan nenek moyangnya untuk menuju perilaku hidup yang lebih bersih dan sehat”.

Saat ini di Desa Parupuk bangunan wc darat yang sudah dibangun di setiap rumah warga (25 buah) dan wc umum sebanyak 4 buah

Penulis :

Suandri 'Wendy'

Community Organizer, warga Desa Baun Bango, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on google
Share on pinterest
Share on telegram
Share on whatsapp

Leave a Reply